Jodoh…
Seperti sepasang sendal, identik dan saling melengkapi, jarang kita temukan sepasang sendal yang satu berukuran 10 yang satu lagi berukuran 8 atau yang satu berwarna merah dan yang satunya berwarna kuning belang- belang. Begitu juga dengan jodoh, potongan sayap yang terbuat dari potongan rusuk Adam untuk melengkapi sayap yang lain sehinggga menjadi sempurna yang nantinya digunakan terbang mengarungi samudra rumahtangga dunia sampai akhirat.
Tapi sayang seribu sayang, sayap impian sukar ditemukan. Berkelana mencari potongan sayap identik yang disembunyikan-Nya di balik hikmah kehidupan, yang telah tertulis di Lauh Mahfudz, sesulit mencari duri dalam tumpukan padi.
Terkadang mata ini tertipu saat mencarinya, terbohongi oleh fatamorgana yang tercipta dari gurun cinta. Bayangan menyejukan dan menyenangkan menarik perlahan kedalam lubang angan- angan.
Lemah sempoyongan tak ada tenaga lelah berputus asa, berhenti sejenak bercermin dalam angin yang tanak di tepi bukit berundak. Menatap diri kotor berpeluh kesalahan dan kekhilafan berangan- angan mendapatkan kebaikan dan kesempurnaan.
Sejauh mana tindakan untuk mendapatkan kesempurnaan, sejauh itu pula kekuatannya terbentuk. Sebuah periuk tercipta dengan ukuran tandang priuk itu sendiri tidak lebih. Memaksakannya adalah perbuatan bodoh dan menguranginya merupakan lambang keputusasaan.
Seorang penyair berkata :
“Belajarlah bersyukur dengan jodoh anugrah Tuhan, usah mendambakan teman secantik BalQis andai dirimu tidak seindah Sulaiman, mengapa di harapkan teman setampan Yusuf andai dirimu tidak setulus Zulaikha, tak perlu mencari seistimewa Khatidjah andai dirimu tidak sesempurna Rasulullah S.A.W”


