Bukan Artikel Jodoh

27 07 2010

Jodoh…

Seperti sepasang sendal, identik dan saling melengkapi, jarang kita temukan sepasang sendal yang satu berukuran 10 yang satu lagi berukuran 8 atau yang satu berwarna merah dan yang satunya berwarna kuning belang- belang. Begitu juga dengan jodoh, potongan sayap yang terbuat dari potongan rusuk Adam untuk melengkapi sayap yang lain sehinggga menjadi sempurna yang nantinya digunakan terbang mengarungi samudra rumahtangga dunia sampai akhirat.

Tapi sayang seribu sayang, sayap impian sukar ditemukan. Berkelana mencari potongan sayap identik yang disembunyikan-Nya di balik hikmah kehidupan, yang telah tertulis di Lauh Mahfudz, sesulit mencari duri dalam tumpukan padi.

Terkadang mata ini tertipu saat mencarinya, terbohongi oleh fatamorgana yang tercipta dari gurun cinta. Bayangan menyejukan dan menyenangkan menarik perlahan kedalam lubang  angan- angan.

Lemah sempoyongan tak ada tenaga lelah berputus asa, berhenti sejenak bercermin dalam angin yang tanak di tepi bukit berundak. Menatap diri kotor berpeluh kesalahan dan kekhilafan berangan- angan mendapatkan kebaikan dan kesempurnaan.

Sejauh mana tindakan untuk mendapatkan kesempurnaan, sejauh itu pula kekuatannya terbentuk. Sebuah periuk tercipta dengan ukuran tandang priuk itu sendiri tidak lebih. Memaksakannya adalah perbuatan bodoh dan menguranginya merupakan lambang keputusasaan.

Seorang penyair berkata :

“Belajarlah bersyukur dengan jodoh anugrah Tuhan,  usah mendambakan teman secantik BalQis andai dirimu tidak seindah Sulaiman, mengapa di harapkan teman setampan Yusuf andai dirimu tidak setulus Zulaikha, tak perlu mencari seistimewa Khatidjah  andai dirimu tidak sesempurna Rasulullah S.A.W”





Dilema Shalat Subuh

8 07 2010

Adalah pada waktu ini tolak ukur keimanan seseorang dipertaruhkan, anda tidak percaya???

Sebuah problema, yang takan bisa terselesaikan dalam sekali duduk. membutuhkan waktu yang cukup lama untuk memecahkannya, tidak cukup dengan mendengarkan ceramah- ceramah, membaca buku ataupun menghadiri seminar- minar agama.

Sudah hampir setengah tahun ini saya belum bisa istiqomah shalat subuh di mesjid, itu merupakan tolak ukur lemahnya iman diri ini. Lemahnya iman disebabkan banyak maksiat dan turunnya kuantitas ibadah, Turunnya kuantitas ibadah dikarenakan kesibukan akan dunia, kesibukan dunia disebabkan dari lupanya mengngingat akhirat atau kematian. Begitulah kondisi diriku saat ini.

Teringat akan masa2 kejayaan terdahulu ketika iman terasa begitu manis, semanis gula yang dicampur madu, begitu manisnya sehingga jiwa ini pun menjadi manis, raga menjadi manis, shalat menjadi manis, puasa menjadi manis, akhlak menjadi manis, semua ibadah baik yang wajib maupun yang sunnah terasa begitu manis sehingga tidak ada rasa keterpaksaan dalam menjalaninya. Ketika airmata tak terasa mengalir saat shalat dan do’a, semua kepahitan dalam tubuh keluar dengan hina, semua tergantikan dengan pesona manisnya iman.

Teringat akan masa2 kejayaan terdahulu ketika iman terasa begitu manis, kapanpun waktunya dimanapun tempatnya, apapun kondisinya Shalat subuh  masih tetap dapat dilaksanakan dengan mudah, semudah membalikan telapak kaki (saya kira ini cukup sulit), maksudnya  membalikan telapak tangan.

Tapi melihat saat ini, ketika Syaitan dan Iblis memutuskan untuk bersatu menghancurkan iman anak Adam, dengan bekerjasama beramai- ramai berusaha memegang tangannya, kakinya, kepalanya, didekap erat tubuhnya dibelai rambutnya ditiupkan angin- angin kemalasan yang tidak hanya sekali, tetapi terus menerus, tidak kenal menyerah, tidak kenal lelah, siang dan malam, selama bumi masih berputar, selama manusia masih tinggal diatas permukaan, sampai hembusan nafas terakhir manusia, disitulah mereka akan berhenti, saat penentuan sukses atau tidaknya mereka hidup.

Ketika tangan dan kaki kaku

Ketika nafas sudah batas dagu

Ketika harta sudah tidak laku

Ketika diri seharga batu


Sepertinya kondisi seperti ini mau tidak mau, cepat atau lambat harus berubah, hei kalian teriaklah ditelinga ku, hei kalian lipatlah kasurku, bangunkan aku….

Ya Alloh, pilihlah hambamu…








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.